Senandung Melintas Zaman

Senandung Melintas Zaman

Buku ini mengupas tidak saja riwayat hidup sosok Ismail Marzuki atau Ismail Mz atau Bang Maing putra Betawi kelahiran Kwitang, 11 Mei 1914, yang dikenal necis, sederhana, disiplin, dan mendapat anugerah bakat musik luar biasa; tetapi juga latar belakang penciptaan lagu, tema dan warna-warni irama lagu-lagunya, serta komentar kritis yang sempat disampaikan oleh sejumlah pemusik berpendidikan Barat.
Sebuah lagu yang pernah kita dengar diradio, ditelevisi, di ruang konser, dan dihandphone kita sendiri atau berasal dari salah satu sumber yaitu dari sang pencipa lagu. Lagu berikut ini mungkin kamu pernah dengar versi orkestrasinya, mungkin ketika berada dipesawat terbang.
”Tanah airku Indonesia negri elok yang amat ku cinta” kamu mungkin tau judul lagunya? ya judulnya adalah Rayuan Pulau Kelapa. Pencipanya adalah Ismail Marzuki putra Betawi asli kelahiran Kwitang Jakarta Pusat. Kamu juga mungkin pernah  menggemari lagu-lagu Ismail Marzuki seperti halnya tokoh kita B.J. Habibie  dan Bung Hatta. Bung Hatta sangat suka dengan lagu Indonesia Pusaka yang diciptakan Ismail Marzuki menjelang Indonesia merdeka. “Disana tempat lahir beta, dibuai dibesarkan bunda”. Lagu ini sering sekali disenandungkan oleh Bung Hatta ketika bangun tidur atau menjelang tidur. Sedagkan Eyang B.J. Habibie senang sekali dengan lagu “Sepasang Mata Bola” yang diciptakan Ismail Marzuki dalam perjalanan kereta malam Jakarta-Solo.
Ketika Habibie menjabat sebagai Presiden RI, ia ingin sekali ada hasil karya-karya lagu Indonesia yang bisa setara dengan kelas dunia, seperti Hongariyan Rhapsody dan Rumanian Rhapsody, tapi mengapa Indonesia tidak punya yang namanya Indonesian Rhapsody?
Cerita tentang Ismail Marzuki ini saya ambil dari buku Biografi Ismail Marzuki  yang ditulis oleh Ninok Leksono seorang wartawan senior yang pernah menjabat sebagai wakil pemimpin redaksi kompas. Ismail Marzuki sesungguhnya telah menjadi piatu pada saat berumur 3 bulan, dua orang abangnya juga meninggal ketika berumur dibawah sepuluh tahun. Sehingga ayahnya menindik kuping Ismail  dan memasanginya anting-anting dengan alasan bahwa ia percaya Ismail akan terjaga keselamatannya.
Ayah Ismail tergolong sebagai orang yang berada, namun ia tidak memasukan Ismail ke sekolah musik melainkan ke sekolah agama. Ketika di rumah, Ismail terbiasa mendengarkan koleksi piringan hitam milik ayahnya di gramofon. mulai dari lagu gambus hingga kroncong, lagu barat sampai latin degan curang irama dari rumba, tenggo hingga samba. Dari situlah bakat seni Ismail kemudian terasah, selanjutnya Ismail yang jago berbahasa inggris dan belanda menikah dengan kekasih pujaan hatinya yaitu Euis Zuraida. Kalau kamu pernah dengar lagu Panon Hideung yang berbahasa sunda, itu adalah lagu yg diciptakan Bang  Ismail untuk istri kesayangannya
Dari keahlian yang dimiliki Ismail seperti bernyanyi, pintar memainkan alat musik dan pandai mencipta lagu, Ismail Marzuki juga suka melawak, lewat homornya dia biasa menyindir belanda sang penguasa melalui radioforo tempat ia bekerja. Sehingga belanda menyebut radio yang didirikan para nasioanalis itu sebagai radio pemberontak. 
Kesehatan Ismail Marzuki memburuk setelah ia membeli sebuah saksofon temannya yang sedang sakait dan butuh uang. tak lama kemudian Ismail ketularan penyakit dan ia meninggal dengan usia muda (44 tahun). Seperti itulah lagu-lagu Ismail Marzuki yang tetap biasa kita nikmati seperti kelip bintang dimalam hari.

Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer